Petani Kian Tergencet, Indonesia Importir Kakao Pada 2014

BISNIS.COM,JAKARTA—Kondisi perkakaoan nasional kian memprihatinkan, pada 2014 Indonesia diperkirakan mengimpor sekitar 100.000 ton, karena produksi terus menyusut dan konversi lahan terus terjadi setiap tahun.



Zulhefi Sikumbang, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), mengungkapkan produksi kakao pada tahun ini hanya 450.000 ton, sedangkan pada 2014 kapasitas giling pabrik pengolah mencapai 550.000 ton. Tanaman kakao semakin tidak menarik bagi petani, sehingga konversi lahan terus bertambah, mencapai 200.000 hektare hingga 2012.



Dari produksi 450.000 ton, ujarnya, sebanyak 350.000 ton digiling pabrik dalam negeri dan 100.000 ton diekspor.



“Petani kakao semakin tergencet dalam 3 tahun terakhir, setelah pajak ekspor diterapkan. Kini harga di tingkat petani hanya Rp16.000 per kg, atau titik terendah dalam 5 tahun terakhir,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (10/3).



Menurutnya, seharusnya harga biji kakao di tingkat petani minimal Rp17.500 per kg. Dengan harga Rp16.000 per kg, petani tidak bisa menikmati harga alias hanya berada di titik impas.



Dia menjelaskan diskon harga biji kakao yang semakin besar menjadi disinsentif bagi petani. Dari luas tanaman kakao 1,5 juta ha, kini menyusut menjadi sekitar 1,3 juta ha. Banyak petani yang beralih ke komoditas agribisnis lainnya.



Ironisnya lagi, imbuh Zulhefi, dalam kondisi low season Oktober 2012-Februari 2013 tidak ada lagi panen kakao. Padahal, biasanya masa low season masih terjadi panen sekitar 20% dari panen raya.



Dalam setahun, ungkapnya, puncak panen kakao terjadi dua periode, yakni April-Juni dan September-Oktober.



Kini, ujar Zulhefi, terjadi oligopsoni dalam pasar kakao nasional. Industri pengolah biji kakao menjadi penentu harga di tingkat petani. Selain itu, sambungnya, harga komoditas biji kakao dunia terus turun, per Kamis (7/3) harga di Pasar New York US$2.035 per ton. Adapun diskon harga di tingkat petani mencapai US$350 per ton.



Dia mengungkapkan kini tidak terjadi mekanisme penyeimbang harga di pasar, karena praktis eksportir tidak lagi melakukan pembelian di tingkat petani. Kini, tinggal enam eksportir dari  40 eksportir sebelum PE biji kakao diterapkan.



Dari enam eksportir itu ekspor diperkirakan 100.000 ton pada 2013, dan hanya 50.000 ton pada 2014.”Sebaliknya, pada tahun depan Indonesia akan impor biji kakao 100.000 ton.”



Dia menjelaskan kebijakan penerapan pajak ekspor (PE) biji kakao benar-benar memukul petani. Sebaliknya, tujuan awal PE kakao, yakni membangkitkan industri pengolahan kakao lokal tidak terwujud.



Menurut Zulhefi, PE kakao memang terbukti menggairahkan investasi asing masuk, tetapi kini hanya tiga pabrik pengolah kakao domestic yang mampu bertahan. Investasi lima pabrik baru terjadi hingga tahun ini, antara lain Barry Callebaut, JB Cocoa, dan Cargill.



Total pabrik yang eksis, sambungnya, tinggal 10 tetapi hanya satu yang tergolong besar yakni BT Cocoa (Bumi Tangerang Mesindotama) dan dua pabrik lainnya berkapasitas di bawah 5.000 ton per tahun.



“Kami harapkan Kementan serius memperhatikan kondisi kakao nasional.  Jangan membuat kebijakan yang tidak efektif, seperti Gernas Kakao. Kementan harus memberikan penyuluhan yang riil guna meningkatkan produktivitas kakao,” ujar Zulhefi.



Cita-cita produktivitas 1 juta ton per ha, sambungnya, kini hanya kenangan. Jangankan mencapai 500.000 kg per ha, seperti yang diharapkan, kini produkvitas hanya 350.000 kg per ha. ()

Source: Bisnis Indonesia