Dampak Dolar Tembus Rp 11.000, Harga Terigu Hingga Mi Instan Naik

Harga tepung terigu hingga mi instan masih terpengaruh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tembus Rp 11.000. Gandum sebagai bahan baku tepung terigu selama ini 100% diimpor, sehingga produk hilirnya seperti mi instan ikut terpengaruh.

Di Pasar Tradisional Sungai Bambu Jakarta Utara, harga jual tepung terigu di tempat ini masih dipatok dengan harga Rp 7.000/kg dari sebelumnya hanya Rp 5.000-6.000/kg.

"Masih tinggi harganya dari distributornya juga sudah naik. Naiknya sudah lama," kata Ida, penjaga toko bahan pokok di Pasar Sungai Bambu, Jakarta Utara, Senin (23/9/2013).

Tepung terigu pada umumnya di Indonesia memang sebagian besar didatangkan melalui impor dari luar negeri. Oleh sebab itu, ketika nilai tukar rupiah melemah maka barang tersebut akan naik harganya.

Imbas dari tingginya harga jual tepung terigu berpengaruh terhadap harga jual mie instan. Rata-rata mie instan mengalami kenaikan Rp 500/bungkus.

"Hal ini akan berimbas pada harga mi instan yang naik dari Rp 1.500/bungkus menjadi Rp 2.000/bungkus. Mi instan kan banyak menggunakan terigu," katanya.

Sedangkan untuk harga sembako lainnya cenderung stabil. Berikut ini harga jual beberapa kebutuhan pokok:

 

  • Beras IR 36 tetap antara Rp 6.500-7.000/liter
  • Minyak sayur turun dari Rp 10.500 ke Rp 10.000/kg
  • Gula tetap Rp 13.000/kg
  • Telur ayam tetap Rp 18.000/kg
  • Terigu naik dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 7.000/kg
  • Kecap manis tetap Rp 5.000/botol
  • Mi instan naik dari Rp 1.500/bungkus menjadi Rp 2.000/bungkus

(www.detik.com)